Suku Bugis di Lovina wujud akulturasi budaya di Bali Utara.
Assalamualaikum ....
Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang masih menjaga teguh adat budaya yang diwarisi oleh para leluhuurnya. Tentu saja banyak tradisi yang masih bisa kita saksikan. Budaya tersebut menjadi identitas yang melekat bagi masyarakat Bali. Setiap daerah memiliki ciri khas yang menandakan dari suatu daerah tersebut. Seperti di daerah Kaliasem Lovina, yang terletak di Bali Utara. Di Daerah pesisir pantai ini banyak sekali kita temukan terdapat suatu yang khas dari segi linguistik pada penduduk setempat. Kita kan temui logat mereka gunakan memiliki ciri khas tersendiri yang mana terdapat pecampuran logat bugis.
Logat penduduk setempat sangat mudah kita identifikasi dengan beberapa kata bugis yang mereka gunakan dalam berkomunikasi. Tak heran jika kita merasakan atmosfire yang berbeda di daerah ini, karna banyaknya pernikahan antara suku bugis dengan penduduk asli Bali yang kemudian menjadi suatu komunitas yang cukup besar sebab generasi mereka yang tetap menetap di Lovina. Kita akan mudah jumpai beberapa kebudayaan Bali dan Suku Bugis yang tetap eksis seperti dari segi bahasa dan kebiasaan.
Penggunaan percampuran bahasa yang biasa merka gunakan dimana membubuhkan kata "iyek" jika mengungkapkan kata setuju, contoh:
Orang pertama :" Dije melali? ke laut yek?"
Dimana jalan-jalan? ke pantai ya?
Orang kedua : "iyek."
Iya.
Iyek merupakan bahasa sopan dari suku bugis untuk mengngkapkan kata iya. Bayak hal yang menarik tentunya, beberapa budaya dari suku bugis yang tetap digunakan seperti:
1. Perayaan hari raya, dimana masyarakat setempat akan memasak Buras sebagai sajian disaat hari raya idul fitri maupun idul adha. buras sendiri merupakan olahan khas suku bugis, buras merupakan olahan dari beras yang memiliki citarasa gurih dibungkus oleh daun pisang. Sajian ini tidak akan terlewatan saat hari raya islam tiba.
2. Olahan Daging sapi, beberapa penduduk setempat menyatakan bahwa mereka mengolah daging sesuai dengan resep dari kakek nenek mereka. Jika dicicip dari rasa memang terdapat perbedaan dengan rempah-rempah khas Bali. Namun rasa olahan daging tersebut lebih mirip dengan olahan khas makassar seperti coto makassar, Ponro dll. Dapat disimpulkan resep yang mereka pertahankan untuk mengolah daging terddapat pengaruh budaya dari Suku Bugis.
3. Olahan Ikan Bakar, beberapa bumbu yang digunakan tidak jauh dengan olahan khas Suku Bugis dan perpaduan Suku Bali.
Akulturasi budaya lovina cukup terjaga, masayaraakaat masih tetap bisa hidup berdampingan dengan dua budaya yang sudah lama berlangsung. Generasi-kegenerasi tetap melangsungkan perpaduan budaya ini. Selain itu penduduk Lovina masyoritas muslim suatu hal yang sangat relate jika terdapat persamaan dengan suku bugis, karna suku bugis di dominasi oleh penganut ajaran islam. Namun tidak dapat diketahui secara langsung kapan awal mula perpaduan budaya ini terjadi, namun menurut folklore yang berkembang suku bugis merantau ke dareah Bali utara yang menentap di daerah pesisir pantai. yang hingga kini terjalin harmonis...
Sungguh beranekaragam budaya indonesia.
Komentar
Posting Komentar