Sejarah Tari Jejumputan yang merupakan tari sakral yang dipentaskan saat Upacara saba nguja Benih di Desa Pedawa
Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak suku dan
memiliki ciri khas budayanya masing-masing. Sangat sulit dipisahkan antara
kesenian dengan budaya pada suatu suku/ masyarakat. Terkadang kesenian tersebut
merupakan bagian penting dari kepercayaan yang mereka anut. Seperti kesenian di
pulau Bali, yang memiliki nilai profan
dan sakral. Hal ini dapat dilihat
dari keterlibatan seni dalam aktivitas upacara keagamaan. Seperti kesenian tari, tari bagi masyarakat
Bali memiliki fungsi tersendiri. Tari yang sangat erat hubungannya dengan
masyarakat Bali. Berbagai aktivitas
upacara di Bali tak sedikit yang mengunakan tari sebagai salah satu sarana
untuk menujukkan rasa bhakti kepada
Tuhan. Seperti tari Jejumputan di
Desa Pedawa, tari ini merupakan tari Wali
yang mana hanya dipentaskan saat Upacara Saba Nguja Binih.
Tari Jejumputan merupakan tari yang hanya dipentaskan saat upacara tertentu. Istilah Jejumputan berasal dari Desa Pedawa yang mana berasal dari kata “Je”, “Jumput”, “-an”. “Je” merupakan kata yang mengartikan aktivitas/tindakan. “Jumput” yang berarti memilih sebagian, yang dimaksud disini pemilihan dengan kriteria tertentu. Kemudian kata “–an” yang merupakan kata imbuhan. Sehingga Jejumputan bisa diartikan sebagai memilih sebagian dengan kriteria tertentu. Jika di kaitkan dengan kata “Tari” maka tari jejumputan adalah sebuah tari yang melalui proses pemilihan beberapa calon penari dengan kriteria tertentu. Kata jejumputan memang menggambarkan bagaimana proses pemilihan calon penari. Sebab yang menarikan tarian ini merupakan hal yang utama dalam rangkaian pementasan tari Jejumputan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak I Wayan Sukrata (wawancara, 21 Februari 2019)
“Tari jejumputan
berasal dari kata "je",
"jumput" dan
"an". "Je"
merupakan kata yang menunjukan suatu aktivitas, "jumput" artinya
mengambil sebagian/tertentu/terpilih sesuai kriteria, dan " an" merupakan kata imbuhan. Jadi Jejumputan dapat diartikan memilih sebagian
sesuai kriteria tertentu”
Hal ini juga sepadan dengan apa yang disampaikan oleh
I Nyoman Kalam (wawancara, 22 Februari 2019)
“Kata Jumputan
berasal dari jumput, jumput yang dimaksudkan adalah pemilihan
calon penari yang harus sesuai dengan ketentuan dengan proses jumput (megambil sebagian). Ketentuan
memilih penari berasal dari leluhur yang hingga kini digunakan. Maka tarian ini
diberi nama Jejumputan”
Pernyataan tersebut sepadan dengan apa yang
disampaikan oleh I Wayan Darna (wawancara, 22 Februari 2019)
“Nama tari
Jejumputan ini berasal dari kata jumput
yang artinya mengambil tapi hanya sebagian. Mengambil/memilih sebagian yang
dimaksud adalah dalam pemilihan calon penari. Mengambil/memilih calon penari
yang sudah memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh leluhur”
Semua pernyataan di atas juga sama halnya dengan
pernyataan Kelihan Adat Wayan Sudiastika
(wawancara,30 Februari 2019)
“Jumputan artinya memilih sebagian yang
sesuai dengan kriteria tertentu atau yang sudah ditetapkan. Hal ini ada
kaitannya dengan tahapan pemilihan calon penari. Dalam pemilihan calon penari
pun terdapat kriteria tertentu, kriteria tersebut merupakan ketentuan dari para
leluhur yang digunakan sebagai acuan hingga sekarang.”
Pementasan tari ini tidak diketahui secara pasti kapan
mulai dipentaskan. Karna sebagian besar warga Desa Pedawa mempercayai jika
tarian ini sudah ada sangat lama sehingga tahunnya pun tidak diketahui secara
pasti. Maka warga melestarikan tarian ini sebab sangat berkaitan erat dengan
kepercayaan masyarakat. Namun beberapa masyarakat mempercayai bahwa tarian ini
ada disebabkan oleh salah satu leluhur dari yos
Tapakan Gunung Agung yang mana sedang berburu dan kemudian memperoleh hasil
buruannya berupa hewan kijang. Setelah memperoleh hasil buruannya sang pemburu
memperoleh pewisik untuk membangun
tempat suci, yang mana pembangunan tempat suci harus terletak di daerah yang
tinggi. Kemudian dibangunlah tempat suci sesuai dengan syarat yang ditentukan.
Mulai dari situlah banyak petujuk lainnya yang kemudian adanya tari Jejumputan ini.
Terdapat cerita
yang berkembang dalam masyarakat mengenai tarian ini, yang mana masyarakat
percaya bahwa tarian ini ditarikan dalam rangka menghibur Dewi Sri. Kemudian
tarian ini terus ditarikan agar Dewi Sri sang Dewi Kemakmuran selalu
melimpahkan rejeki dan memberi kesuburan pada lahan mereka berupa memperoleh
benih unggul, terhindar dari hama, dan meningkatkan hasil panen. Selain itu
pementasan tari Jejumputan ini juga
merupakan bentuk rasa syukur atas rejeki yang dilimpahkan. Tarian ini pertama
kali ditarikan di Pura Puncak Sari. Kemudian terus dilestarikan hingga sekarang. Tarian ini merupakan salah
satu bentuk maturan keluarga dari Yos Tapakan Gunung Agung. apabila pementasan dilakukan di Pura
Puncak Sari. Karena tarian ini
bisa dikatakan lahir atau berasal dari yos
Tapakan Gunung Agung yang dipentaskan dalam satu tahun sekali. Namun jika
pementasan dilakukan di Desa maka tarian ini bukan bentuk maturan keluarga
namun bagian dari Upacara Saba Nguja
Benih untuk satu Desa Pedawa. Apabila di Desa tarian ini dipentaskan lima
tahun sekali. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak I Wayan Sukrata
(wawancara, 21 Februari 2019)
“……tari Jejumputan ini berasal dari leluhur yos tapakan Gunung agung yang
memperoleh pewisik untuk mementaskan
tari Jejumputan supaya Dewi Sri selalu
melimpahkan rejeki. Tarian ini merupakan salah satu bentuk maturan untuk yos Tapakan
Gunung Agung”
Hal ini juga sepadan dengan apa yang disampaikan oleh
Komang Arta (wawancara, 24 Februari 2019)
“…..tari Jejumputan awal mulanya berasal dari yos Tapakan Gunung Agung yang
memperoleh pewisik untuk mementaskan
tari Jejumputan agar Dewi Kemakmuran
tetap memberi kesuburan dan melimpahkan rejeki dikebun atau lahan kami”
Semua pernyataan di atas juga sama halnya dengan
pernyataan I Nyoman Kalam (wawancara,27 Februari 2019)
“Awalnya tari Jejumputan ini hanya dipentaskan di Pura
Puncak Sari sebagai bentuk maturan.
Karena leluhur dari yos Tapakan
Gunung Agung memperoleh pewisik untuk
mementaskan tari Jejumputan di pura
mereka. Kemudian desa juga mulai mementaskan tari Jejumputan agar Dewi Sri juga melimpahkan rejeki keseluruh ladang
atau lahan pertanian yang ada di Desa Pedawa yang dipentaskan pada saat Upacara
Saba Nguja Benih”
Pada saat pementasan
para penari pun mengenakan atribut sebagai alat pendukung. Atribut yang gunakan
pun sudah menjadi ketentuan dari leluhur yang tidak diketahui alasan pasti.
Namun peroperti tersebut memiliki nilai tersendiri sehingga menjadi perpaduan yang memiliki nilai fungsi dan nilai estetik.
Komentar
Posting Komentar